Sunah dan adab berbuka
by
Yusra Aunina
- Februari 26, 2026
1. MENYEGERAKAN BERBUKA
Sunnah pertama ketika berbuka puasa adalah dengan menyegerakannya ketika sudah yakin terbenamnya matahari (Maghrib), hal ini senada dengan Hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ"
_"Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka."_ (HR. Bukhari No. 1957, Muslim No. 1098)
Al Imam An Nawawi menjelaskan tentang hadits tersebut:
فِيهِ الْحَثُّ عَلَى تَعْجِيلِهِ بَعْدَ تَحَقُّقِ غُرُوبِ الشَّمْسِ وَمَعْنَاهُ لَا يَزَالُ أَمْرُ الْأُمَّةِ مُنْتَظِمًا وَهُمْ بِخَيْرٍ مَا دَامُوا مُحَافِظِينَ عَلَى هَذِهِ السُّنَّةِ وَإِذَا أَخَّرُوهُ كَانَ ذَلِكَ عَلَامَةً عَلَى فَسَادٍ يَقَعُونَ فيه
_"Di dalamnya terdapat anjuran untuk menyegerakan berbuka setelah memastikan matahari benar-benar terbenam. Maknanya adalah bahwa urusan umat akan tetap teratur dan mereka akan tetap dalam kebaikan selama mereka menjaga sunnah ini. Namun, jika mereka mengakhirkannya, hal itu akan menjadi tanda adanya kerusakan yang menimpa mereka."_ [Syarh Shohih Muslim Juz 7 Hal 208]
Lalu apa faedah menyegerakan berbuka?
Nabi ﷺ menganjurkan bersegera didalam berbuka dikarenakan ingin menyelisihi perbuatan orang yahudi,nashrani dan ahlul bid'ah yang mana mereka semua terbiasa mengakhirinya. Al Imam Al Bujairomi mengatakan:
وَلِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ مُخَالَفَةِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، وَكَثِيرٌ مِنْ الْمُبْتَدِعَةِ كَالشِّيعَةِ، فَإِنَّهُمْ يُؤَخِّرُونَ الْفِطْرَ إلَى ظُهُورِ النَّجْمِ
_"Karena dalam hal itu (menyegerakan berbuka puasa) terdapat perbedaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta banyak dari kalangan ahli bid'ah seperti Syiah, karena mereka mengakhirkan berbuka puasa hingga munculnya bintang."_ [Hasyiatul Bujairomi Juz 2 Hal 382]
Dan kebalikan dari Sunnah maka dihukumi Makruh orang yang sengaja mengakhirkan berbukanya,namun jika ia ragu apakah sudah masuk waktu Maghrib atau belum maka disunnahkan untuk mengakhirkannya.
Al Imam Muhammad bin Qosim Al ghazzi berkata:
(تعجيل الفطر) إن تحقق الصائمَ غروبُ الشمس؛ فإن شكَّ فلا يعجل الفطرَ.
_“Disunnahkan menyegerakan berbuka jika ia telah yakin akan tenggelamnya matahari (Magrib). Apabila ia ragu-ragu (sudah Magrib atau belum), maka hendaknya ia tidak menyegerakan berbuka.”_ [Fathul Qorib Al Mujib Juz 1 Hal 138]
Maka kesimpulan hukum dalam menyegerakan berbuka ada 3 :
1.) Jika yakin sudah Maghrib : Sunnah menyegerakan berbuka
2.) Jika Ragu ragu Maghrib : Haram menyegerakan berbuka
3.) Menduga Maghrib dengan ijtihad : Boleh menyegerakan berbuka
Dan menunda berbuka puasa bisa dikategorikan Makruh jika terdapat dua hal : 1.) sengaja bermaksud menundanya 2.) berpendapat seakan menunda puasa itu ada Fadhilah (keutamaan).
Sehingga jika bukan karena 2 hal tersebut, maka tidak mengapa menunda buka puasa, namun hal tersebut tentu tidak dianjurkan. Sebagaimana dijelaskan oleh Al imam Ibnu Hajar Al Haitami berikut:
وَيُكْرَهُ أَنْ يُؤَخِّرَهُ إنْ قَصَدَ ذَلِكَ وَرَأَى أَنَّ فِيهِ فَضِيلَةً وَإِلَّا فَلَا بَأْسَ
_“Dimakruhkan menunda buka puasa, jika ia sengaja untuk itu dan memandang seakan menunda puasa itu ada keutamaan di dalamnya, kalau selain alasan itu maka diperbolehkan menunda"_ [Tuhfatul muhtaj Juz 3 Hal 420]
2. BERBUKA DENGAN KURMA
Diantara kebiasaan Rasulullah ﷺ adalah berbuka dengan beberapa buah kurma (dalam riwayat 3 butir),dan jika tidak ditemukan kurma maka dengan air
Dalam Hadits disebutkan:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: "كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ"
_"Biasanya Rasulullah ﷺ berbuka dengan beberapa butir ruthab (kurma basah) sebelum salat, jika tidak ada ruthab, maka dengan tamr (kurma kering), jika tidak ada, maka beliau minum beberapa teguk air."_ (HR. Abu Dawud No. 2356, Tirmidzi No. 696)
Apa manfaat berbuka dengan kurma?
Syaikh Abdurrouf Al manawi menjelaskan:
فإن الإفطار عليه ثوابا كثيرا فالأمر به شرعي وفيه شوب إرشاد لأن الصوم ينقص البصر ويفرقه والتمر يجمعه ويرد الذاهب لخاصية فيه ولأن التمر إن وصل إلى المعدة وهي خالية أغذى وإلا أخرج بقايا الطعام
_"Sesungguhnya berbuka dengan kurma memiliki banyak pahala, sehingga perintah untuk itu bersifat syar'i, sekaligus mengandung aspek bimbingan.Hal ini karena puasa dapat melemahkan dan mengaburkan penglihatan,sedangkan kurma dapat menguatkan dan mengembalikannya karena memiliki khasiat khusus. Selain itu, jika kurma sampai ke lambung dalam keadaan kosong, ia akan lebih bergizi, sedangkan jika lambung masih berisi sisa makanan, kurma akan membantu membersihkannya."_ [Faidhul Qodir Juz 1 Hal 290]
Apa saja urutan menu berbuka puasa yang dianjurkan?
Maka para ulama mengurutkannya sebagai berikut:
1.) Ruthab: kurma yang baru matang sebelum mengering, masih basah.
2.) Tamr: kurma yang sudah matang, biasanya yang tersebar di Indonesia adalah kurma jenis tamr ini.
3.) Busr: kurma muda yang belum matang, hampir matang.
4.) Air Putih: Air Zamzam lebih utama jika ada, terlebih ketika berada di Mekkah. Jika tidak ada, maka air putih biasa.
5.) Hulwun (حلوُ): makanan/minuman manis yang tidak diolah dengan api (alami), semisal buah-buahan. Lebih utamanya: daging, lalu susu, lalu madu.
6.) Halwa’ (حلوى):makanan/minuman manis yang diolah dengan api (buatan), semisal kolak, brownies, cokelat batangan, gorengan yang manis (contoh: pisang goreng, bakwan jagung, singkong goreng), dll.
Syaikh Abi bakar syato' menyebutkan hal tersebut didalam kitabnya :
الأفضل أن يفطر بالرطب، ثم التمر. وفي معناه: العجوة، ثم البسر، ثم الماء. وكونه من ماء زمزم أولى، ثم الحلو - وهو ما لم تمسه النار كالزبيب، واللبن، والعسل - واللبن أفضل من العسل، واللحم أفضل منهما، ثم الحلواء. ولذلك قال بعضهم: فمن رطب فالبسر فالتمر زمزم * * فماء فحلو ثم حلوى لك الفطر فإن لم يجد إلا الجماع أفطر عليه.
[I'anatu Tholibin Juz 2 Hal 278]
Berapa jumlah buah kurma yang disunnahkan ketika berbuka?
Disunnahkan berjumlah bilangan ganjil seperti satu,tiga,lima dst. Sebagaimana disebutkan oleh Al Imam Sulaiman Jamal :
وَأَصْلُ السُّنَّةِ يَحْصُلُ بِوَاحِدَةٍ وَأَقَلُّ الْكَمَالِ ثَلَاثَةٌ ثُمَّ خَمْسَةٌ وَهَكَذَا مِنْ مَرَاتِبِ الْأَوْتَارِ
_"Dasar pelaksanaan sunnah sudah tercapai dengan satu butir (kurma), sedangkan tingkatan kesempurnaan yang paling minimal adalah tiga butir, kemudian lima butir, dan seterusnya berdasarkan tingkatan bilangan ganjil."_ [Hasyiatul Jamal Juz 2 Hal 328]
Bilangan ganjil bukan hanya berguna untuk kurma melainkan menu lainnya ketika berbuka. Beliau melanjutkan:
وَيُسَنُّ أَنْ يُثَلَّثَ الْفِطْرُ بِهِ كَأَنْ يَأْتِيَ بِثَلَاثِ جَرَعَاتٍ مِنْهُ
_"Disunnahkan untuk berbuka dengan tiga tegukan darinya, seperti meminum tiga kali tegukan air."_
3. DOA BERBUKA
Amalan Sunnah yang ketiga ini adalah berdoa baik berupa doa doa yang ma'tsur (bersumber dari Nabi Muhammad ﷺ) , salafusholihin ataupun doa apa saja untuk kebaikan dunia dan akhirat. Karena Nabi ﷺ menjelaskan bahwa seorang yang berpuasa maka selama itu pula doanya akan Allah kabulkan :
وَعَن أبي هُرَيْرَة قَالَ قَالَ رَسُول الله ﷺ ثَلَاَثة لا ترد دعوتهم الصَّائِم حَتَّى يفْطر وَالإِمَام الْعَادِل ودعوة الْمَظْلُوم
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: _"Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: (1) Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, (2) Pemimpin yang adil, dan (3) Doa orang yang terzalimi."_
Dalam riwayat lain disebutkan
ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ؛ الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
_"Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa ketika berbuka, dan Doa orang yang terzalimi."_ [HR At Tirmidzi No 2526]
Sehingga orang yang berbuka puasa mempunyai jatah doa mustajab ketika ia sedang berbuka bahkan Al Imam An Nawawi menyebutkan bahwasanya orang yang berpuasa mempunyai jatah doa mustajab sepanjang harinya dari ia memulai berpuasa hingga ia berbuka
يُسْتَحَبُّ لِلصَّائِمِ أَنْ يَدْعُوَ فِي حَالِ صَوْمِهِ بِمُهِمَّاتِ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا لَهُ وَلِمَنْ يُحِبُّ وَلِلْمُسْلِمِينَ لِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالْمَظْلُومُ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَهَكَذَا الرِّوَايَةُ حَتَّى بِالتَّاءِ الْمُثَنَّاةِ فَوْقُ فَيَقْتَضِي اسْتِحْبَابُ دُعَاءِ الصَّائِمِ مِنْ أَوَّلِ الْيَوْمِ إلَى آخِرِهِ لِأَنَّهُ يُسَمَّى صَائِمًا فِي كُلِّ ذَلِكَ
_"*Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdoa selama puasanya dengan doa-doa yang berkaitan dengan kepentingan akhirat dan dunianya, baik untuk dirinya, orang yang dicintainya, maupun segenap kaum Muslimin.
Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, Pemimpin yang adil, dan Orang yang terzalimi." (Hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan.)
Begitu pula dalam riwayat hadits ini terdapat kata Hatta (حَتَّى) dengan huruf ta’ (التاء المثناة فوق), yang menunjukkan bahwa doa orang yang berpuasa dianjurkan sejak awal hari hingga akhirnya, karena selama itu ia tetap disebut sebagai orang yang berpuasa."_ [Al Majmu' Syarhil Muhadzab Juz 6 Hal 375]
Adapun doa doa yang yang Nabi ﷺ anjurkan untuk dibacakan ketika berbuka adalah sebagai berikut:
1.) Riwayat Abu daud No 2357
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.
2.) Riwayat Abu daud No. 2358
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ.
3.) Riwayat Ibnu Majah No. 1753
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
4.) Riwayat at thobroni dalam kitabnya Ad du'a Juz 1 Hal 286
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
5.) Riwayat Al Mushonaf Ibnu Abi syaibah No. 10005
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ
6.) Dalam Kitab Tartibul amaliy Juz 1 Hal 344
بِاسْمِ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، تَقَبَّلْهُ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Adapun Doa berbuka yang diajarkan para salafusholihin yang juga bersumber dari Nabi ﷺ diantaranya adalah:
يَا عَظِيمُ، يَا عَظِيمُ أَنْتَ إِلَهى لاَ إِلَهَ لِى غَيْرُكَ، اغْفِرْ لِىَ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الْعَظِيمَ إلَّا الْعَظِيمُ
Dalam hadits disebutkan:
مامِنْ مُسْلِمٍ يَصُومُ وَيَقُولُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ: يَا عَظِيمُ، يَا عَظِيمُ أَنْتَ إِلَهى لاَ إِلَهَ لِى غَيْرُكَ، اغْفِرْ لِىَ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الْعَظِيمَ إلَّا الْعَظِيمُ، إلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ، وَقَالَ رَسُولُ الله ﷺ: عَلِّمُوهَا عَقِبَكُمْ، فَإِنَّهَا كَلِمَة يُحِبُّهَا الله وَرَسُولُهُ، ويُصلحُ بِهَا أمْرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
_"Tidaklah Seorang Muslim yang berpuasa lalu berdoa saat berbuka: (sebaimana doa diatas)
Maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.(Bersih dari dosa)
Rasulullah ﷺ bersabda:"Ajarkanlah doa ini kepada anak-anak kalian, karena ia adalah kalimat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya, serta dapat memperbaiki urusan dunia dan akhirat."_ [Al Jami'ul Kabir Juz 19 Hal 283]
Kesimpulan himpunan doa berbuka puasa
- Versi Syaikh Sulaiman jamal
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، اللَّهُمَّ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ اغْفِرْ لِي، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ، اللَّهُمَّ وَفَقْنَا لِلصِّيَامِ وَبَلَّغْنَا فِيهِ الْقِيَامَ وَأَعِنَّا عَلَيْهِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
[Hasyiatul Jamal Juz 2 Hal 330]
- Versi Al Habib Muhammad Bin Abdullah Al Haddar (Guru sekaligus Mertua habib Umar bin hafidz)
الْحَمْدُ لِلَّهِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلَّمْ ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، وَبِكَ آمَنْتُ ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَرَحْمَتُكَ رَجَوْتُ ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ . ذَهَبَ الظَّمَأُ ، وَابْتُلَّتْ الْعُرُوقُ ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى . يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ اغْفِرْ لِي . الْحَمْدُ اللَّهَ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ . اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي . سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفْوٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفْ عَنَّا يَا كَرِيمُ ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . اللَّهُمَّ يَا عَظِيمُ يَا عظيم، أَنْتَ إلَهِي ، لَا إلَهَ غَيْرُك ، اغْفِرْ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ إِلَّا الْعَظِيمُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ، وَارْضِ عَنَّا وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ ، وَنَجِّنَا مِنْ النَّارِ ، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلِّمَ فِي كُلِّ حِينٍ أَبَدًا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ ، عَدَدَ نِعَمِ اللَّهِ وَأَفْضَالِهِ .
[An Nafahat Ar romdhoniyyah Hal 32]
Kapan disunnahkannya membaca doa untuk berbuka puasa?
Dalam menjawab hal tersebut mayoritas ulama mengatakan dibaca setelah makan bukan sebelum makan seperti yang dilakukan kebanyakan masyarakat Indonesia.
Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami mengatakan :
» يستحب «أن يقول عنده» يعني بعد الفطر: «اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت» اللهم ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله تعالى للاتباع فيهما
_"Disunnahkan (membaca doa berbuka puasa) setelah ia berbuka. Hal ini dianjurkan karena mengikuti sunnah Nabi ﷺ."_ [Al Minhajul Qowim Juz 1 Hal 252]
Lalu bagaimana jika membaca doa berbuka sebelum ia makan?
Maka jawabnya boleh saja namun tetap saja yang utama adalah dipanjatkan setelah selesai berbuka (memakan/meminum menu buka puasa). Syaikh said baisyan mengatakan :
يسن (أن يقول عنده) أي: عند إرادته، والأولى بعده (اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت)
_“Disunnahkan doa tsb boleh dibaca ketika hendak berbuka, namun yang lebih utama itu dibaca sesudahnya.”_ [Busyrol Karim Juz 1 Hal 563]
4. SUNNAH MENDAHULUKAN BERBUKA LALU SHOLAT MAGHRIB
Syaikh Musthofa dzaib menjelaskan:
والأفضل أنَ يفطر على تمرات أو قليل من ماء، تم يصلي المغرب، ثم يتناول الطعام إن أراده.
_"Yang lebih utama adalah berbuka dengan beberapa butir kurma atau sedikit air, kemudian melaksanakan salat Maghrib. Setelah itu, jika menginginkannya, ia boleh makan makanan lainnya."_ [At Tadzhib Fi adillati matn ghoyatu taqrib Hal 104]
5. MEMBERI MAKANAN BERBUKA KEPADA ORANG LAIN
Sunnah Ini adalah Sunnah yang langsung diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan siapa yang mengamalkannya maka ia mendapatkan pahala orang yang ia beri tersebut. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
_"Barang siapa memberi makan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."_ [HR Ibnu Majah No. 1428]
Batasan memberi makanan buka puasa?
Menurut para ulama adalah dengan memberikan menu lengkap seperti orang pada umumnya atau paling minimalnya adalah seteguk air atau sebutir kurma. Al Imam Romli menjelaskan:
سُنَّ أَنْ يُفْطِرَهُمْ بِأَنْ يُعَشِّيَهُمْ لِمَا صَحَّ مِنْ قَوْلِهِ ﷺ «مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ» فَإِنْ عَجَزَ عَنْ عَشَائِهِمْ فَطَّرَهُمْ بِشَرْبَةٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ غَيْرِهِمَا
_"Disunnahkan untuk memberi makan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa dengan menghidangkan makan malam bagi mereka, berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: "Barang siapa memberi makan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun." Jika ia tidak mampu menyediakan makan malam bagi mereka, maka hendaknya ia memberi mereka sesuatu untuk berbuka, seperti seteguk minuman, sebutir kurma, atau yang semisalnya."_ [Nihayatul Muhtaj Juz 3 Hal 183]
Wallahu a'lam Bishowab
Sumber: Ust Muhammad Abdul Basith (Mahasiswa Universitas Al Wasathiyah Hadramaut Yaman)
.png)




